Lebih dari Sekadar Barel Minyak: Menelusuri Denyut Efek Berganda KKKS SRB di Bumi Serasan Sekundang
Muara Enim – Di balik deru mesin kompresor yang tak kenal lelah bekerja, ada denyut kehidupan lain yang berdetak tak kalah kuatnya. Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) seringkali hanya dilihat dari kacamata angka: berapa barel minyak yang diangkat, atau berapa juta standar kaki kubik gas yang dialirkan. Namun, jika kita menilik lebih dekat ke area operasi salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS): PT Sele Raya Belida (SRB) , yang meliputi wilayah kecamatan Lembak dan Gelumbang di Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan, sebuah cerita yang jauh lebih hangat dan manusiawi mulai terkuak.
Ini adalah cerita tentang efek berganda (multiplier effect), bagaimana setiap tetes keringat dan modal yang ditanamkan di sektor hulu migas mengalirkan kesejahteraan jauh melampaui pagar pembatas rig pengeboran bagi masyarakat di Bumi Serasan Sekundang.
Sebagai salah satu KKKS yang beroperasi di bawah pengawasan SKK Migas, KKKS SRB turut memegang peran krusial dalam menjaga ketahanan energi nasional. Namun, bagi masyarakat di sekitar wilayah operasinya, kehadiran perusahaan ini bermakna lebih dari sekadar sumber energi negara; ia turut berperan dalam berbagai bidang seperti ekonomi, sosial, pendidikan hingga kesehatan.
Menggerakkan Roda Ekonomi Akar Rumput: Dari Lapangan Pekerjaan, Hingga Akses Pertanian yang Lebih Terintegrasi
Konsep efek berganda dalam industri hulu migas sangatlah sederhana namun berdampak masif. Ibarat melempar batu ke tengah danau, riaknya akan menyebar hingga ke tepian.
Kehadiran operasi KKKS SRB menciptakan layaknya sebuah ekosistem baru yang berdampak pada perekonomian masyarakat. Dampak ini tidak hanya terbatas pada penyerapan tenaga kerja lokal di lapangan, tetapi juga membuka peluang para pejuang UMKM, serta “menciptakan” akses jalan pertanian dan perkebunan yang lebih terintegrasi dari sebelumnya yang impactnya tidaklah kerdil, karena turut mempengaruhi penghidupan ratusan atau bahkan ribuan kepala keluarga disana.
Jika pembahasan dimulai dari terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat lokal, mungkin sedikit terdengar “klise” atau sangat umum. Dimana dalam pemikiran kebanyakan orang akan bergumam, “dengan adanya perusahaan di sebuah wilayah, sudah seharusnya terbuka juga lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal!”.
Ya, terlepas hal tersebut adalah fakta yang terontentifikasi ataupun hanya opini belaka, namun fakta di lapangan menjabarkan hal tersebut secara jelas dan tak terbantahkan. Dimana, dengan berdirinya KKKS SRB, menjadi berkah rezeki bagi masyarakat sekitar, penyerapan tenaga kerja lokal oleh perusahaan, nyatanya menjadi penopang ekonomi bagi setidaknya puluhan Pemuda dan Kepala Keluarga disana.
“Alhamdulillah, dengan berdirinya KKKS SRB sudah menyerap beberapa tenaga kerja lokal kita, baik tenaga kerja skill ataupun nonskill, tentu ini sangat membantu masyarakat dalam segi ekonomi,” Jelas Kepala Desa Pedataran, Hamdi saat diwawancarai awak media ini pada Senin (8/6/2026).
Selain penyerapan tenaga kerja lokal kita bergeser sedikit topik ke hal yang lebih sosialis, yakni “terciptanya” akses jalan bagi pertanian dan perkebunan menjadi lebih terintegrasi.
Ya, sebelum adanya operasional KKKS SRB, akses jalan menuju lahan pertanian dan perkebunan tidaklah seterbuka seperti sekarang ini, khususnya di wilayah ring 1 perusahaan yang meliputi desa Lembak, Tapus, Melilian dan Pedataran.
Dengan dibukanya akses jalan yang sejatinya diperuntukkan bagi akses transportasi operasional perusahaan, juga turut memberikan efek ekonomi bagi masyarakat sekitar, terlebih lagi jalan-jalan ini terintegrasi ke jalan utama kabupaten Muara Enim.
Perlu diketahui, mayoritas komuditas perkebunan di wilayah ring 1 KKKS SRB sendiri didominasi oleh perkebunan karet milik warga, dimana selama ini akses jalan menuju lahan perkebunan sangat bergantung pada akses jala-jalan “tikus” yang terbuat akibat siklus aktifitas warga sendiri. Hal ini tentu menjadi salah satu faktor hambatan dari warga sekitar untuk mencoba komuditas lain yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan lebih stabil.

Namun, dengan dibukannya akses jalan menuju sumur-sumur operasional perusahaan, maka baik secara langsung maupun tak langsung turut memberikan solusi alternatif bagi masyarakat terhadap komuditas perkebunan dan pertanian lainnya. Jadi, jika dulu mayoritas masyarakat setempat berasumsi bahwa karet menjadi satu-satunya komuditas yang bisa diaplikasikan di lahan mereka, maka kini mindset tersebut sedikitnya mulai berubah.
Saat ini mulai banyak dari petani setempat yang mulai “berani” untuk mencoba menggarap lahannya dengan komuditas perkebunan dan pertanian lainnya selain karet. Salah satunya Ali (46), seorang petani dari desa Melilian yang nyaris sepanjang hidupnya hanya bertumpu pada komuditas karet.
Namun saat ini, dirinya mulai melirik komuditas perkebunan nanas yang saat ini memiliki nilai ekonomi yang baik. Tentu hal ini tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan bagian dari multiplier effect dari akses jalan yang dibangun oleh pihak perusahaan.
“Dulu sulit untuk memilih tanaman, karena akses jalannya terbatas. Sekarang karena akses jalannya ada, maka kita bisa menyesuaikan komuditas yang akan kita aplikasikan. Jadi lebih banyak alternatifnya,” ujarnya saat diwawancarai media ini.
Sebagai catatan, bukan bermaksud untuk mengecilkan peluang atau mendeskriditkan komuditas karet. Namun fakta di lapangan kerap menunjukan, harga karet cenderung tidak stabil (terutama dalam kurun waktu 1 – 2 tahun kebelekang), dimana saat harga karet menurun drastis, akibat dari ketergantungan pada 1 jenis komuditas maka hal itu sangat berpengaruh sekali terhadap perekonomian warga lokal disana.
Untuk itu, dengan terbukanya akses jalan bagi petani, dimana jalan tersebut juga terintegrasi dengan jalan utama kabupaten, maka secara tidak langsung memberikan lebih banyak opsi dan alternatif kepada para petani lokal disana untuk mencoba komuditas lain selain karet. Hal itu lantaran semakin mudahnya para petani disana untuk menuju lokasi lahan, juga memudahkan mereka melakukan perawatan dan mengangkut hasil panen di tahap hilirisasinya.
Jika membahas efek ekonomi terhadap masyarakat lokal, maka jangan lupakan juga keberadaan warung-warung milik warga lokal yang buka hampir di setiap titik-titik sumur operasional perusahaan.
Meskipun terlihat kecil secara kasat mata kita, tapi jika diamati secara mendalam, para penggiat UMKM ini terbukti memberikan efek Simbiosis Mutualisme yang nyata bagi kehidupan!, yakni, memperoleh keuntungan finansial untuk penghidupan, sekaligus mempermudah akses bagi para pekerja untuk memperoleh makanan dan minuman ringan untuk kebutuhan.
Dari secuil kisah tersebut maka tak berlebihan rasanya jika kita menyebut Industri hulu migas bukan hanya tentang mengebor bumi untuk mencari sumber daya, tetapi juga tentang menanamkan harapan dan menumbuhkan kemandirian ekonomi di atas tanah tempat kita berpijak!.
Efek Ganda Terhadap Kehidupan Sosial, Kesehatan dan Pendidikan!
Selain efeknya terhadap perekonomian masyarakat, Efek Berganda Hulu Migas dari kehadiran KKKS SRB bagi masyarakat membuktikan bahwa sumur-sumur migas yang berproduksi membawa gelombang perubahan positif yang meluas, hingga mencakup ruang aspek yang tak kalah penting, yakni sosial, pendidikan hingga kesehatan.
Jika dirunut satu persatu, kepedulian perusahaan terhadap masalah sosial bukan hanya sekedar gimmick formalitas semata. Namun dijalankan dengan rasa penuh kepedulian terhadap sesama melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL). Jika kita analisa lebih mendalam, sebagai contoh: penyaluran santunan sosial untuk lansia dan anak-anak yatim di wilayah kerja perusahaan itu dilakukan secara rutin hampir setiap bulannya. Hal ini diungkapkan langsung oleh Kepala Desa Melilian, Ahmad Zubandri kepada media ini pada Senin (8/9/2026).
“Alhamdulillah hampir setiap bulannya ada santunan dari pihak KKKS SRB bagi para lansia dan anak-anak yatim di desa kami. Untuk jumlah penerimanya rata-rata lima puluh orang penerima dalam sekali penyaluran santunan,” Jelas Zubandri.
“Alhamdulillah hampir setiap bulannya ada santunan dari pihak SRB bagi para lansia dan anak-anak yatim di desa kami. Untuk jumlah penerimanya rata-rata lima puluh orang penerima dalam sekali penyaluran santunan,” Jelas Zubandri.

“Bantuan ini sebagai salah satu bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral dan sosial dari perusahaan kepada masyarakat disekitar wilayah operasional perusahaan, kami harap bantuan ini dapat bermanfaat dan sedikit meringankan beban hidup sehari-shari,” ujar Manager Public Relations KKKS SRB Dani Yuliana, seperti dikutip dari salah satu artikel berita.
Selain santunan terhadap para lansia dan anak yatim, perusahaan juga menggelar Khitanan Massal Gratis kepada ratusan anak-anak yang berasal dari desa-desa disekitaran operasional perusahaan. Bahkan para anak-anak tersebut tak hanya mendapat fasilitas khitan gratis, tapi juga tapi juga menerima bingkisan dan santunan serta perlengkapan sekolah sebagai bentuk perhatian dari pihak perusahaan.
Bagi keluarga yang mengikuti sunat massal, ini bukan sekedar program seremoni, namun jauh daripada itu program tersebut menjadi bukti nyata hadirnya perusahaan di tengah masyarakat sekitar wilayah operasi. “Kami sangat terbantu dengan adanya kegiatan seperti ini. Anak kami bisa dikhitan dengan pelayanan yang baik tanpa harus memikirkan biaya,” ungkap salah satu orang tua anak dikutip dari artikel beritapress.com.
Kepedulian pihak perusahaan bahkan menembus sektor sosial agama dengan memberikan bantuan berupa alat baca Al-Qur’an kepada Mona Sintia seorang gadis difabel warga desa Sugai Duren, Kecamatan Lembak pada akhir 2025 yang lalu. Hal ini membuktikan kepekaan perusahaan terhadap nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat sekitar.

Dibidang pendidikan KKKS SRB juga memberikan efek yang tidak bisa dianggap remeh, penyaluran bantuan melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) berupa 50 unit Tablet Android beserta Kuota Internet perbulannya disaat merebaknya pandemi Covid-19 di tahun 2020 yang lalu, dimana mengharuskan anak-anak belajar secara Daring dari rumah, merupakan inisiatif yang tak terbantahkan akan semangat perusahaan untuk turut berkontribusi dalam mencerdaskan anak-anak bangsa.
Dibidang kesehatan, KKKS SRB secara interaktif turut serta dalam memberi dukungan terhadap kesehatan para lansia, ibu hamil dan anak-anak. Sebagai contoh, pada akhir tahun 2025 yang lalu, KKKS SRB menyalurkan bantuan untuk Puskesdes Pagar Bulan berupa 1 set ranjang pasien, alat-alat kesehatan, serta paket obat-obatan untuk layanan pengobatan gratis.
Selain itu, KKKS SRB juga memberikan makanan tambahan bagi kategori rentan, meliputi 20 kotak susu lansia, 13 kotak susu ibu hamil, 100 kotak susu bayi dan balita, serta 50 bungkus biskuit.Dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen KKKS SRB dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan bagi masyarakat.
Seperti yang diutarakan oleh Public Relations Manager KKKS SRB, Dani Yuliana. “Kami percaya bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan fondasi penting dalam membangun masa depan bangsa. Melalui program ini, kami berharap dapat menambah semangat anak-anak dalam belajar yang lebih baik lagi. Begitu juga dengan fasilitas kesehatan, kami berharap alat-alat yang diberikan dapat dirawat dengan baik serta bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan,”, ujarnya.
Dari “Perut” Bumi Untuk Bangsa dan Negara!
Mungkin tulisan ini hanyalah sedikit penggalan kisah dari banyaknya cerita lain yang menggambarkan efek berganda hulu migas dari hadirnya KKKS Sele Raya Belida bagi masyarakat disekitar lokasi operasionalnya. Multiplier Effect yang meliputi aspek ekonomi, sosial, pendidikan, hingga kesehatan telah menciptakan harmoni dan rasa memiliki (sense of belonging) dari warga terhadap keberadaan objek vital nasional di daerah mereka.
Industri hulu migas pada hakikatnya adalah industri yang mengelola sumber daya alam tak terbaharukan. Namun, warisan yang ditinggalkan tidak boleh sekadar lahan kosong ketika sumur-sumur tersebut nantinya mengering.
Dari komitmen yang kuat untuk berkontribusi pada bangsa dan negara, tonggak-tonggak besi yang berdiri di area operasi KKKS SRB bukan sekadar monumen ekstraksi alam. Ia adalah saksi bisu dari sebuah sinergi yang indah: di mana energi dari perut bumi disedot untuk menerangi negara dan pada saat yang bersamaan, energi tersebut mengalirkan kehidupan, harapan, dan kemandirian bagi masyarakat di sekitarnya. Itulah esensi sejati dari efek berganda hulu migas. (Chandra)

